Sahabat Senja, pasti merasakan bahwa dari tahun ke tahun bumi semakin panas. Tercatat dari tahun 1980 suhu bumi mengalami peningkatan. Tahun 2011-2020 tercatat sebagai dekade tahun terpanas.
Suhu panas bumi yang semakin meningkat menandakan bahwa krisis iklim harus segera ditangani. Sudah menjadi hal urgent yang tidak boleh ditunda lagi, karena tidak hanya di Indonesia musim yang tidak menentu, bencana banjir dan kekeringan dirasakan oleh masyarakat di seluruh dunia.
Daftar isi
Krisis Iklim Bukan Sekedar Cerita Horor

Di sekelilingku banyak yang tidak percaya bahwa krisis iklim itu nyata dan hanya sebuah cerita horor sebagai bumbu kehidupan. Padahal, aku sendiri sangat merasakan bagaimana perubahan iklim berdampak terhadap aktivitas sehari-hari.
Selama 10 tahun tinggal di Kota Industri aku merasakan perubahan suhu bumi yang signifikan. Pertama kali hijrah ke Cikarang tidak begitu panas dan masih banyak kebun ilalang.
Saat ini, real estate merajalela hingga ke perkampungan. Cuaca semakin panas dan gersang. Terkadang panasnya kota industri mencapai 33 derajat celcius, yang mana 10 tahun lalu masih dibawah 27 derajat celcius.
Bahkan, banjir sudah menjadi agenda tahunan saat musim hujan tiba. Beberapa daerah juga kekurangan air bersih karena kekeringan. Dengan ini,sangat jelas bahwa krisis iklim adalah peringatan keras untuk kita lebih memperhatikan lingkungan.
Penyebab Krisis Iklim
Banyak faktor penyebab terjadinya krisis iklim, seperti:
- Penggunaan bahan bakar fosil di berbagai sektor
- Industri manufaktur yang menghasilkan emisi gas rumah kaca
- Deforestasi hutan
- Peternakan menghasilkan emisi karbon dioksida dan gas metana yang menyebabkan global warming
Dampak Krisis Iklim
Fenomena suhu bumi meningkat merupakan salah satu dampak krisis iklim yang telah mempengaruhi kehidupan manusia. Di siang hari panas terik semakin tidak terkendali, terjadinya El Nino dan La Nina yang menyebabkan permukaan air laut meninggi.
Tentu kamu pernah dengar bahwa beberapa daerah pesisir sudah terendam oleh banjir rob. Itu disebabkan karena suhu bumi tinggi dan menyebabkan kutub es mencair.
Dampak krisis lainnya yang semakin meneror kehidupan, yaitu cuaca ekstrem, kekeringan, dan kebakaran hutan. Krisis iklim yang semakin tidak terkendali menjadi tugas bersama untuk segera melakukan mitigasi, adaptasi, dan implementasinya lebih cepat.
Konferensi Perubahan Iklim COP30 Brazil

Krisis iklim sudah mendapatkan perhatian dunia sejak akhir tahun 1970 hingga awal tahun 1980. Lalu, pada tahun 1979 konferensi iklim dunia mulai diperbincangkan. Kala itu, membahas aktivitas manusia terhadap iklim di bumi.
Perbincangan mengenai krisis iklim semakin mendapatkan perhatian sejak dibentuknya Intergovernmental Panel of Climate Change (IPCC) pada tahun 1988. Lebih masif saat KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) Bumi di Rio de Janeiro tahun 1992.
Pada tahun 1994 PBB membentuk konvensi kerangka kerja UNFCCC (United Nations Climate Change Conference) dan Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa COP pertama diadakan di Berlin, Jerman.
COP menjadi agenda tahunan bagi anggota PBB untuk membicarakan mitigasi iklim. Tahun ini, COP30 akan berlangsung di Belem, Brazil yang akan terselenggara selama 12 hari dari tanggal 10-21 November 2025.
COP30 Brazil
Selama konferensi berlangsung akan ada beberapa topik atau tema khusus untuk didiskusikan. Walau begitu yang harus dunia lihat di COP30 ini yaitu Brazil sebagai tuan rumah ingin agar mata dunia tertuju pada Amazon sebagai paru-paru dunia.
Melalui COP30 menjadi momen krusial untuk melakukan evaluasi terhadap target-target iklim yang belum maksimal. Amazon juga menjadi saksi bagaimana aksi-aksi dalam mitigasi dan adaptasi iklim berdampak besar terhadap masa depan bumi.
Maksudnya bahwa COP bukan sekadar bagaimana para pemimpin dunia duduk dan melakukan negosiasi untuk mencapai kesepakatan mitigasi iklim. Peran Masyarakat Adat, Komunitas Lokal, maupun masyarakat sipil terlibat dalam mitigasi krisis iklim.
Advokasi dan Komunikasi di COP30
Sudah menjadi rahasia umum bahwa masyarakat adat sering mendapatkan perlakukan tidak adil. Bahkan mereka disingkirkan karena tidak mau hengkang dari tanah kelahiran.
Padahal masyarakat adat memiliki andil besar dalam menjaga hutan dan lingkungan tetap lestari. Hal tersebut sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Rukka Sombolinggi dari Rumah Aman bahwa masyarakat adat menjadi korban perampasan hutan.
Sedangkan dunia sudah mengakui bahwa salah satu cara keluar dari krisis iklim dengan menyerahkan hutan dijaga oleh masyarakat adat. Dalam hal ini masyarakat adat memiliki ilmu pengetahuan dari leluhur untuk menjaga alam secara turun-temurun.

Lucia Ixchiu sebagai aktivis lingkungan bagian dari Kelompok Masyarakat Adat Guatemala juga membenarkan bahwa Masyarakat adat dapat melakukan advokasi, bisa mendengar, dan berdialog untuk menciptakan solusi. Untuk itu, COP30 juga menjadi momen penting untuk menyatukan beberapa tuntutan untuk keadilan masyarakat adat.
Tuntutan COP30 Brazil
Tidak hanya masyarakat adat, organisasi masyarakat sipil Brazil juga menyerukan agar pemimpin pemerintahan mendorong aksi-aksi mendesak. Mulai dari transisi energi, NDC (Nationally Determined Contributions), perlindungan lingkungan, adaptasi, dan keadilan iklim.
Sedangkan Correa do Lago selaku presiden COP30 Brazil mengajak komunitas internasional untuk lebih menekankan akan pentingnya kontribusi ambisius terhadap NDC. Selain itu, pemimpin dunia juga harus membatasi kenaikan suhu global hingga 1.5 derajat celcius.
Kesimpulan
Krisis iklim bukanlah sebuah cerita belaka, melainkan bagaimana alam harus bertahan dengan mitigasi dan adaptasi. Melalui COP30 juga harus menjadi ajang dan momen terbaik bagaimana negara-negara membuat kesepakatan terhadap krisis iklim.
Bagaimanapun kenyataannya, krisis iklim mempengaruhi segala aspek kehidupan manusia. Sehingga, sudah saatnya kembali fokus pada tujuan untuk melakukan mitigasi dan adaptasi terhadap krisis iklim.
Oleh karena itu, Yuk! Sahabat Senja, kita dukung Masyarakat Adat di COP30 Brazil dengan membagikan cerita perjuangan mereka di media sosial yang kamu miliki.
Ajak dunia untuk melihat peran besar Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal yang krusial terhadap dunia. Terutama dalam mengatasi Krisis Iklim.
Duhhh, jadi ngerasa bersalah sendiri abis baca iniβ¦ soalnya tadi baru aja lupa bawa tumbler pas beli kopi π Tapi bener banget sih, kalau nggak mulai dari hal kecil kayak gitu, kapan bumi kita bisa βnapasβ lagi. Artikelnya keren banget, gaya bahasanya santai tapi nyentil! ππ₯ Yuk, pelan-pelan kita jadi tim penyelamat bumi, minimal mulai dari nggak nyampah sembarangan dulu deh ππ±
Bener kak. Krisis iklim Memang bukan sekedar cerita biasa. Terasa banget kok kak. Mulai dari panas yang gak wajar sampe iklim yang berantakan sudah terasa banget.
Panas banget tiba-tiba ujan. Kadang musim hujan juga panasnya terasa nyelekit.
bener banget soal masyarakat adat. Mereka ini garda terdepan yang sering nggak kelihatan padahal paling banyak jasanya. Ilmu mereka soal hutan tuh bukan teori doang, tapi warisan turun temurun. itu yang banyak orang lupa.
Yuk lah, kita ikut suarakan peran masyarakat adat. Biar dunia gak cuma ngomong “save the earth” tapi juga ikutan gerak bareng.
Semoga krisis iklim ini teratasi dengan baik yaa. Karena sedih banget kalau terus2an seperti ini. Yuk kita mulai selamatkan bumi dari hal-hal kecil di sekitar kita. Masih ada anak,cucu,cicit yang kelak akan menempati planet ini π