Menyesal! One Day Trip Pulau Pari, Kepulauan Seribu

Menyesal banget! Kenapa tidak dari dulu healing ke Pulau Pari yang ternyata satu hari lebih dari cukup untuk melepas penat dari rutinitas pekerjaan yang padat.

Selama ini, aku selalu berpikir untuk liburan minimal punya waktu 2 hari. Nyatanya, kali ini aku bisa membuktikan bahwa sebagai karyawan, liburan bukan tentang banyaknya waktu dan perjalanan jauh. 

Untuk menepi sejenak bisa memilih 1 destinasi terdekat dan mampu mengobati jiwa yang lelah. Seperti kali ini, One day trip Pulau Pari menjadi sebuah perjalanan singkat tanpa harus cuti panjang.

Menepi Sejenak di Pulau Pari

keindahan alam Pulau Pari

Pulau Pari adalah salah satu pulau kecil di gugusan Kepulauan Seribu yang dikenal dengan lautnya yang jernih, pasir putih, dan suasana yang tenang. Pulau ini tidak menawarkan gemerlap resort mewah, namun justru itulah daya tariknya. 

Tenang, ramah di kantong, dan dekat dari pusat kota Jakarta. Untuk liburan singkat, wisata Pulau Pari menjadi pilihan ideal. 

Terutama bagi karyawan seperti aku dengan waktu libur singkat. Satu hari lebih dari cukup untuk kembali pulang dengan hati yang lebih ringan.

Berlibur satu hari di Kepulauan Seribu sangat cocok buat kamu yang ada di Jabodetabek. Dari pengalamanku yang dari Planet Cikarang, ternyata sangat bisa One Day Trip ke Pulau Pari. 

Perjalanan Pagi dari Cikarang

Pagi masih gelap ketika starter motor menyala. Aku berangkat dari rumah adik, menuju stasiun Cikarang.  

Dini hari kala itu, jalanan lenggang. Hanya ada beberapa kios makanan kue basah yang sudah nangkring berjualan di pinggir jalan. 

Begitu juga dengan stasiun yang belum ramai. Hanya ada beberapa segelintir orang yang menunggu keberangkatan KRL menuju Angke maupun Kampung Bandan. 

Aku naik KRL Cikarang jurusan Kampung Banda. Ini karena, tujuan dermaga yang dipilih menuju Pulau Pari adalah dermaga Marina Ancol. 

Dari Kampung Banda aku melanjutkan ke Ancol naik ojek online. Sahabat Senja, bisa juga naik busway dan turun langsung di Ancol. 

Hanya saja karena kejar-kejaran dengan waktu, ojek online lebih cepat dan praktis. Apalagi kapal menuju Kepulauan Seribu, biasanya berangkat pagi sekitar Pukul 08.00. 

Itulah mengapa aku memilih tiba lebih pagi di Dermaga Marina Ancol agar tidak ketinggalan kapal. Sayang banget kan, jika ketinggalan karena saat kapal sudah berangkat maka tiket hangus. 

Perlu catat juga buat dapetin tiket ke Kepulauan Seribu tidak mudah. Sering banget kehabisan, karena memang banyak peminat liburan di Kepulauan Seribu. 

Gemuruh Ombak yang Dirindukan

Ini bukan pertama kalinya aku ke Kepulauan Seribu. Sebelumnya pernah trip ke Pulau Pramuka dan berkunjung ke Pulau Tidung. Hanya saja waktu itu, aku berangkat naik kapal dari Muara Angke. 

Perjalanan kali ini memilih berangkat dari Marina Ancol. Pukul 08.00, satu per satu penumpang di panggil untuk naik kapal. Setelah semua naik, kapal perlahan bergerak, meninggalkan daratan Jakarta. 

Di tengah perjalanan, mata dimanjakan birunya laut yang terbentang luas. Ombak kecil memantul lembut di lambung kapal, seolah mengantar kami menuju hari yang berbeda.

perahu menuju pantai di Kepulauan Seribu

Penumpang juga dapat menyaksikan kapal besar dan kapal-kapal kecil yang tengah berlayar. Bahkan aku menyaksikan ada 3 jetski yang tengah membelah ombak di laut Ancol. 

Pemandangan selama perjalanan menuju Pulau Pari begitu memanjakan mata. Lelah yang menumpuk mulai terasa ringan dan stres ikut terhempas angin laut. 

Keindahan Pantai Pasir Perawan

pantai pasir perawan kepualauan seribu

Selama kurang lebih 1 jam perjalanan, kapal akhirnya sandar di Dermaga Pulau Pari. Hanya beberapa orang yang turun di sini, penumpang lain memiliki tujuan berbeda. 

Aku sempat mengisi perut dengan Mie Ayam yang berada di dekat dermaga. Sebelum melanjutkan ke Pantai Pasir Perawan sebagai salah satu destinasi Pulau Pari, aku sempat bertanya-tanya kepada si Ibu penjual Mie Ayam. 

Antara sewa sepeda atau naik bentor. Akhirnya, setelah tarik-ulur kebimbangan, Aku memutuskan sewa sepeda supaya bebas keliling Pulau Pari. 

Ternyata, tidak perlu waktu lama untuk jatuh hati setelah tiba di Pantai Pasir Perawan. Ikon Pulau Pari yang terkenal dengan air lautnya yang jernih begitu indah dan memanjakan mata. 

Rasanya sangat bahagia begitu kaki menyentuh pasir. Rasa lelah perjalanan seolah luruh begitu saja. 

Birunya air laut yang jernih, pemandangan hutan mangrove yang menyejukan mata, dan suasana yang tenang menjadi alasanku jatuh cinta dengan Pulau Pari. 

Pengunjung juga bisa keliling hutan mangrove dengan naik perahu kayu. Ada nelayan khusus yang akan memandu. 

harga sewa perahu Pulau Pari Kepualauan Seribu

Aku tidak sempat keliling hutan mangrove, karena hanya berdua. Sewa perahu bisa lebih mahal jika berdua.

Harap maklum, karena wacana liburan kali ini yaitu ‘’liburan hemat’’. Lebih memilih bersantai di pinggir pantai sambil menikmati hembusan angin dan membaca buku favoritku. 

Bersepeda Menyusuri Pulau Menuju Pantai Bintang Laut

Luas Gugus Pulau Pari sekitar 94.57 hektar, namun menyimpan banyak cerita. Bersepeda mengelilingi pulau membuka sisi lain yang tidak kalah menariknya. 

Aku bisa melihat perkampungan warga, walau kebanyakan adalah homestay. Setidaknya jika kembali ke Pulau Pari untuk liburan, sudah ada gambaran mau homestay dimana. 

Perjalanan berlanjut melewati jalanan yang rindang dengan pepohonan. Tujuannya yaitu Pantai Bintang Laut. Sayangnya air laut sedang pasang, sehingga tidak bisa menyaksikan langsung bintang laut. 

Pantai Bintang Laut Pulau Pari

Pantas saja dalam perjalanan kami melewati wilayah dengan genangan air yang cukup tinggi. Aku pikir karena hujan, ternyata air laut yang pasang hingga pemukiman warga. 

Di Pulau Bintang memang aku tidak bisa menikmati sensasi memegang Bintang Laut, tetapi aku melihat anak kecil yang tengah mancing ikan di perahu kayu.

Menariknya, dua anak laki-laki tersebut mancing ikan menggunakan seutas tali. Aku mengamati mereka mancing ikan kecil dan ikan kecil itu ternyata dijadikan umpan untuk mendapatkan ikan yang lebih besar. 

Percaya, deh! 

“Keindahan itu bukan hanya tentang pemandangan, tetapi tentang seni kehidupan.”

Di sinilah aku merasa Pulau Pari terasa hidup, bukan hanya sebagai destinasi, tetapi sebagai rumah dengan banyak cerita.

Saatnya Kembali ke Jakarta

Waktu sudah menunjukan Pukul 14.00 dan aku memutuskan kembali ke dermaga untuk kembali ke Jakarta. Berdasarkan jadwal, kapal akan tiba di Pulau Pari jam 3 sore. 

Ternyata tidak sesuai jadwal, kapal sangat ngaret. Sampai ada orang China yang bolak-balik menanyakan perihal kedatangan kapal kepada petugas. 

Tepat Pukul 16.00, kapal tiba di dermaga. Seperti saat berangkat, untuk masuk kapal menunggu antrian sesuai nama yang dipanggil. 

Akhirnya, kapal sore membawa kami kembali ke Jakarta. Pulau Pari perlahan mengecil di kejauhan, namun perasaannya justru terasa penuh. 

One day trip Pulau Pari dari Jakarta mungkin singkat, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak selalu membutuhkan waktu yang lama. Perjalanan singkat pun menjadi penuh makna jika menikmati setiap momennya.

Tips Agar One Day Trip Pulau Pari Lebih Maksimal

Tips Liburan di Pulau Pari 1 Hari

Tips buat Sahabat Senja yang di Jabodetabek atau lagi liburan di Jakarta, bisa banget coba One Day Trip Pulau Pari. 

Agar liburan satu hari di Pulau Pari lebih maksimal, berikut beberapa tips dari aku: 

  • Ambil keberangkatan kapal pagi dari Marina Ancol atau Muara Angke 
  • Beli tiket online melalui aplikasi JaketBoat
  • Sewa Sepeda untuk Keliling Pulau Pari. Biayanya Rp. 30.000.
  • Jika kamu ingin snorkeling bisa ikut open trip agar jadwal lebih teratur. Bisa juga on the spot, hanya saja harus siap dengan budgetnya. 
  • Siapkan uang tunai untuk jajan, makan, dan belanja oleh-oleh.
  • Jangan lupa bawa pakaian ganti 

One day trip Pulau Pari adalah bukti bahwa sehari pun liburan menjadi berarti. Menenangkan stress di pulau yang punya pantai indah tidak akan mengecewakan.

Pulau Pari juga mengajarkan bahwa liburan tidak selalu tentang pergi jauh. Kadang, cukup menyeberang sebentar untuk menemukan kembali ketenangan. 

Tinggalkan komentar