Sebagai generasi milenial aku pernah di masa tidak ada listrik di rumah dan saat itu hanya mengandalkan obor minyak tanah. Seiring berjalannya waktu listrik sampai di perkampungan, hanya saja ada harga yang harus dibayar yaitu perubahan iklim yang disebabkan oleh meningkatnya efek gas rumah kaca.
Ya! Listrik yang kita nikmati saat ini sebagian besarnya masih menggunakan bahan dasar batu bara, gas alam, dan minyak bumi yang mana dalam prosesnya menimbulkan efek pemanasan global. Itulah mengapa, hadir inovasi baru yaitu PLTS dalam membantu mengurangi jejak karbon.
Krisis Iklim dan Pentingnya Mengurangi Jejak Karbon

Krisis iklim adalah isu lingkungan yang tengah menghantui seluruh dunia yang ditandai dengan terjadinya bencana alam ekstrim, seperti kekeringan parah, gelombang panas berkepanjangan, badai tropis, kenaikan permukaan laut, erosi pantai, hingga fenomena La Nina dan El Nino.
Penyebab krisis iklim sendiri dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti peningkatan emisi gas rumah kaca yang disebabkan tingginya CO2, metana, maupun N2O di udara. Gas tersebut dihasilkan oleh adanya aktivitas manusia berupa pembakaran bahan bakar fosil batu bara, gas, dan minyak bumi.
Itulh mengapa, penggunaan energi berbasis bahan bakar fosil berkontribusi terhadap meningkatnya efek rumah kaca. Termasuk penggunaan listrik, sehingga ajakan untuk menghemat listrik bukan bualan belaka.
Terlebih mengurangi jejak karbon tidak hanya berbicara soal menanam pohon, tetapi juga bagaimana energi dihasilkan dan digunakan. Bisa saja dengan mudah mengatakan, untuk menanam lebih banyak pohon saja.
Tentu dampaknya memang ada untuk pelestarian hutan, tetapi jika bumi terus dikeruk maka gas karbon yang dihasilkan dari pembakaran fosil tetap menjadi ancaman bagi atmosfer bumi. Untuk itu, solusi alternatif lain dari reboisasi yaitu transisi menuju energi terbarukan.
Energi terbarukan menjadi salah satu pendekatan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, yaitu beralih dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) ke Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Sebuah gebrakan energi terbarukan dengan memanfaatkan energi surya untuk kebutuhan penggunaan listrik.
Misalnya penggunaan genset tenaga surya yang mana kebutuhan manusia tetap terpenuhi, tanpa merusak alam lebih jauh lagi. Dengan kata lain, selalu ada alternatif lain untuk mengembalikan bumi kembali hijau dan pulih dari krisis iklim.
Apa Hubungan Penggunaan Energi dengan Jejak Karbon?
Semakin banyak penggunaan energi yang dihasilkan dari pembakaran fosil maka jejak karbon semakin tinggi. Jejak karbon adalah jumah total emisi gas rumah kaca, terutama CO2 dari berbagai aktivitas individu maupun organisasi.
Jumlah karbon dihitung dari total penggunaan bahan bakar fosil, energi yang digunakan, pola makan, hingga penggunaan transportasi. Agar jejak karbon tidak semakin tinggi maka menghemat energi, beralih ke transportasi umum, bahkan jalan kaki menjadi hal baik yang bisa dilakukan saat ini oleh individu maupun organisasi.
Termasuk penggunaan energi PLTS yang dapat membantu mengurangi jejak karbon. Contoh pemanfaatan PLTS dengan genset yaitu sebagai sumber cadangan listrik rumah, untuk operasional bisnis, proyek, atau fasilitas operasional lainnya.
Jika terus menerus menggunakan energi dari bahan bakar fosil maka jejak karbon semakin meningkat dengan cepat. Untuk itu, dalam menghemat listrik genset PLTS menjadi pilihan tepat.
Perlu diingat bahwa semakin banyak bahan bakar fosil yang digunakan, semakin besar pula emisi yang dihasilkan dari listrik dengan bahan bakar fosil.
Peran PLTS sebagai Sumber Energi Surya dan Mengurangi Jejak Karbon

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) adalah pemanfaatan sumber cahaya matahari menjadi energi listrik. Proses ini bagian dari energi terbarukan, yang mana PLTS bisa digunakan di rumah.
PLTS menjadi solusi dalam mengurangi jejak karbon, karena dalam prosesnya tidak membutuhkan proses pembakaran bahan bakar untuk menghasilkan listrik. Untuk itu, PLTS menjadi salah satu pilihan dalam mengurangi ketergantungan terhadap energi berbasis bahan bakar fosil.
PLTS dan Genset
Saat ini genset menggunakan bahan bakar fosil untuk menghasilkan listrik. Akan tetapi, dengan adanya PLTS bisa dikombinasikan untuk menghasilkan listrik yang hemat karbon.
Penggunaan energi yang awalnya meninggalkan jejak korban bisa lebih ramah lingkungan. Bahkan lebih hemat biaya operasional.
Genset dengan PLTS membantu mengurangi biaya operasional menjadi lebih hemat. Terutama bagi organisasi maupun komunitas yang tidak bisa lepas dari penggunaan listrik setiap harinya.
Energi Surya Mengurangi Jejak Karbon
Energi surya menjadi salah satu solusi untuk mengurangi emisi karbon, karena dalam proses pembuatannya tidak memerlukan bahan bakar fosil. Menurut Solar Energy Industries Association (SEIA) untuk setiap kilowatt (kW) kapasitas panel surya yang dipasang dapat menghemat sekitaran 1,5 ton CO2 per tahun.
Sebagai contoh, sistem panel Surya 5kW dan mampu menghasilkan kurang lebih 7.000 kWh per tahun, maka dapat menghemat 10.5 ton CO2. Selain ini, 1 pcs PLTS setara dengan menanam 10 – 15 pohon per tahun.
Penggunaan PLTS untuk Rumah Tangga dan Komersial
PLTS memang bukan satu-satunya solusi untuk mengatasi krisis iklim. Akan tetapi, penggunaan energi surya menjadi salah satu langkah dalam mengurangi jejak karbon.
Energi Surya dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan komersial. Terutama dengan penggunaan listrik dalam kapasitas besar, sebaiknya mempertimbangkan penggunaan PLTS.
Dengan begitu ikut andil dalam mengurangi jejak karbon yang menjadi penyebab perubahan iklim saat ini. Kabar baiknya, bisa lebih hemat biaya operasional.
Tentunya penggunaan PLTS menyesuaikan dengan kebutuhan dan kapasitas setiap pengguna. Pemasangan perlu disesuaikan dengan kebutuhan energi, kondisi lokasi, dan sistem yang digunakan.
Untuk pemasangan PLTS tidak rumit, baik penggunaan rumah tangga maupun komersial. Pemasangan bisa melalui penyedia yang memiliki layanan dan pengalaman sesuai kebutuhan proyek, seperti Batari Energy.
Batari Energy Melayani Pemasangan PLTS di Seluruh Indonesia
Batari Energy adalah penyedia layanan pemasangan PLTS, sekaligus pemeliharaannya. Baik untuk kebutuhan residensial maupun komersial di seluruh wilayah Indonesia.
Untuk pemeliharaan, Batari Energy melakukan pemantauan dengan pengembangan aplikasi berbasis IoT. Aplikasi ini, bisa memperkirakan masa pemakaian panel surya.
Selain itu menyediakan layanan garansi dan perawatan untuk perlindungan penggunaan panel surya. Dengan proses pemasangan hybrid.
Kesimpulan
Jika, Sahabat Senja masih ada yang bertanya bisakah PLTS membantu mengurangi jejak karbon?
Jawabannya tentu saja ‘Ya!’ karena tenaga surya dapat membantu mengurangi emisi karbon yang berkaitan dengan penggunaan energi berbahan bakar fosil.
PLTS menjadi salah satu upaya dalam mengurangi jejak karbon untuk kelestarian lingkungan. Menggunakan energi Surya untuk kebutuhan listrik sama dengan mengurangi penggunaan solar, yang artinya mengurangi emisi CO2.