Perubahan iklim membuat permukaan air laut meningkat dan hutan mangrove menjadi solusi dalam mengatasi hempasan ombak laut, abrasi, maupun erosi. Namun, yang jarang diketahui bahwa peran mangrove lebih besar dari kelihatannya.
Mangrove memiliki ekosistem yang besar, menjadi tempat tinggal hewan laut. Ikan, kepiting, dan biota endemik lainnya yang tidak ditemukan di tempat lain. Tidak hanya itu, ekosistem mangrove menjadi sumber pangan lokal masyarakat pesisir, termasuk mengolah buah mangrove menjadi tepung mangrove, cemilan, hingga sabun.
Ketahanan Pangan Berbasis Mangrove di Raja Ampat

Dalam rangka menyambut Bangkok Climate Action Week 2026 pada 3 – 11 Oktober mendatang aku mendapat kesempatan mendengar cerita dari Raja Ampat mengenai ketahanan pangan berbasis Mangrove. Sebuah cerita yang membuat aku sadar akan satu hal, bahwa ketahanan pangan tidak harus merusak hutan.
Dalam pertemuan online bersama teman-teman Eco Blogger Squad, ternyata masyarakat pesisir di Raja Ampat mengolah buah mangrove menjadi sumber pangan. Seperti yang diketahui, Raja Ampat terkenal dengan potensi wisata laut yang tinggi.
Urgensi Potensi Mangrove di Raja Ampat

Dimana wilayah Raja Ampat 90% merupakan kawasan konservasi, sehingga ada pembatasan untuk bebetasa status kawasan. Misalnya kawasan yang dapat dikelola oleh masyarakat, mengingat ekosistem mangrove bisa memenuhi pangan lokal.
Mangrove memang memiliki keunikan tersendiri, sebagai tempat berlindung sejumlah ekosistem biota laut. Di Raja Ampat sendiri, keanekaragaman hayati mangrove sangat unik dibandingkan spesies yang ada di wilayah lain, artinya hanya ada di raja ampat.
Berbicara mengenai pesisir Raja Ampat memiliki keterkaitan antara mangrove dan stok ikan. Sektor perikanan menjadi sumber PAD Raja Ampat itu sendiri, selain sektor wisata karena mangrove memiliki peran stratgeis untuk ikan berkembangbiak.
JIka daun jatuh ke air menjadi sumber protein bagi ekosistem yang tinggal di laut. Akar-akar berfungsi sebagai penyaring sedimen dan polutan untuk menjaga kejernihan air.
Sayangnya dampak perubahan iklim sangat mempengaruhi keberadaan ekosistem mangrove. Misalnya permukaan air laut mengancam habitat pemijahan ikan dan krustasea yang menjadi sumber protein.
Sumber Pangan Ekosistem Mangrove

Hutan mangrove menjadi sumber pangan dan pendapatan bagi masyarakat pesisir. Misalnya kepiting yang banyak berkembang biak di area mangrove untuk dijadikan sumber pangan lokal.
Selain itu, biji mangrove diolah menjadi sumber pangan lokal. Walau hanya jenis tertentu saja, tetapi harapannya bisa menjadi sumber pangan pengganti beras jika sedang langka.
Strategi Pengelolaan Berkelanjutan
Mengingat sebagian besar wilayah pesisir Raja Ampat merupakan kawasan konservasi, maka perlu strategi dalam pengelolaan berkelanjutan. Masyarakat lokal diikutsertakan dalam pemetaan partisipatif untuk pemanfaatan wilayah kawasan mangrove.
Cerita Wawiyai Steve Membangun Ketahanan Pangan Lokal

Wawiyai Steve adalah salah satu sosok yang berperan dalam membangun ketahanan pangan lokal masyarakat pesisir Raja Ampat. Konon, di abad ke-18 mangrove sudah menjadi sumber pangan lokal yang dibawa oleh Suku Biak.
Dari story Suku Biak yang sudah mengkonsumsi olahan mangrove, sekarang ini masyarakat Raja Ampat juga mengolah buah mangrove menjadi sumber pangan. Ini semua juga dilatarbelakangi oleh keresahan masyarakat, karena setiap hari mangrove mengalami degradasi.
Baik itu karena perubahan iklim maupun pembangunan resort. Untuk itu, dilakukan pemetaan partisipatif dalam pengelolaan Sumber Daya Alam. Berupa pemanfaatan Ruang yang mana ada ruang lindung, ruang pemanfaatan, ruang pemanfaatan berbasis konservasi.
Selain itu, mendorong pengelolaan mangrove sebagai bahan pangan lokal yang sempat hilang. Cerita menariknya pengelolaan mangrove ini adalah perempuan, karena wilayah pesisir dan hutan mangrove adalah jelajahnya perempuan.
Jika para lelaki mencari ikan di lautan lepas, makan perempuan di wilayah pesisir menjelajahi hutan mangrove untuk mencari kepiting, maupun ikan. Dengan adanya dorongan dalam pemanfaatan mangrove menjadi sumber pangan lokal, maka perempuan juga bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari mengolah mangrove.
Bagian yang diolah yaitu buah mangrove tertentu, karena tidak semua buah bisa dimakan. Buah mangrove diolah menjadi sabun cair dan padat, keripik, dan tepung. Selain itu, bagian lain mangrove dibuat menjadi anyaman tradisional dan souvenir lainnya.

Melalui pemanfaatan mangrove sebagai ketahanan pangan lokal, kedepannya sumber daya alam ini menjadi sebagai sumber pangan. Terutama pengganti beras, ketika stok di Raja Ampat sedang langka.
Jaga Hutan, Jaga Sumber Pangan
Ketika berbicara tentang sumber pangan lokal, bagaimana dengan ekosistem hutannya? Jawabannya tentu dalam mengelola sumber pangan lokal, tidak harus merusak habitatnya. Sebaliknya ini menjadi bagian dari proses pelestarian, yang mana mangrove memiliki peran ganda sebagai penjaga pantai dan sumber pangan.
Terlebih pengolahan buah mangrove dibatasi dan hanya untuk ekonomi sampingan. Ini karena, olahan mangrove hanya diambil dari buah yang jatuh, bukan memetik langsung dari pohonnya.
Sumber pangan lokal juga sebetulnya ada di sekeliling kita, hanya saja kehadirannya jarang disadari. Jika di pesisir ada mangrove, di daratan ada pohon aren.

Nira pohon aren sering dimanfaatkan untuk membuat gula merah dan buahnya yaitu kolang-kaling diolah menjadi makanan. Sahabat Senja, tahu tidak kalau pohon aren memiliki akar yang kuat dan bisa menjaga tanah longsor maupun erosi.
Oleh karena itu, ketahanan pangan itu tidak harus merusak hutan. Keduanya bisa saling berjalan berdampingan dengan memanfaatkannya sebaik mungkin. Tidak melakukan eksploitasi hingga merusak kawasan hutan.
Kira-kira di daerah kalian ada sumber pangan apa, nih?