Kebakaran hutan dan lahan tahun 2026 menjadi karhutla terburuk di Indonesia yang mana meningkat sekitar 69% dari tahun sebelumnya. Merujuk dari data BNPB per tanggal 23 Oktober 2026 luas hutan yang terbakar di 6 provinsi mencapai 36.630,6 hektar.
Karhutla juga melanda beberapa gunung di wilayah Jawa, yang mana bencana ini tidak hanya berdampak buruk bagi kesehatan, tetapi merusak biodiversitas, dan sumber pangan lokal. Termasuk ancaman karhutla hadap ketahanan pangan lokal kedepannya.
Mengenal Karhutla dan Ekosistem Gambut di Indonesia
Beberapa waktu lalu aku mengikuti Online Gathering Eco Blogger Squad yang membahas tentang hubungan Karhutla, Biodiversitas, dan Pangan Lokal. Indonesia sendiri, khususnya wilayah Kalimantan bencana karhutla semakin memburuk.
Wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, sudah 3 bulan lebih hingga saat ini tertutup asap karhutla. Mengganggu aktivitas masyarakat dan pastinya ancaman kesehatan ISPA yang mengancam nyawa.
Kebakaran di Kalimantan sendiri berlokasi di lahan gambut, yang mana menjadi salah satu faktor proses pemadaman api sangat sulit. Ini semua karena karakteristik lahan gambut itu sendiri.
Karhutla di Lahan Gambut

Kebakaran hutan di lahan gambut akan susah dipadamkan, karena gambut adalah lahan basah yang terbentuk dari akumulasi organik, sisa tanaman, maupun lumut yang tidak terurai sempurna selama ribuan tahun. Di dalamnya menyimpan jumlah karbon sangat besar dalam meregulasi iklim.
Seperti yang disampaikan oleh Bapak Yoga dari Pantau Gambut dalam sesi online gathering Eco Blogger Squad, bahwa gambut yang terdegradasi tidak bisa kembali semula. Maksudnya, terjadinya perubahan hidrologi, struktur tanah, dan cadangan karbon yang terlepas ke atmosfer.
Itulah mengapa saat lahan gambut terbakar tidak hanya titik api yang sulit padam, tetapi ancaman karhutla dapat mengganggu ekosistem gambut. Termasuk kehilangan sumber pangan lokal, sedangkan Indonesia sendiri rumah bagi ekosistem gambut tropis terbesar di dunia yaitu mencapai 24.2 juta hektar.
Tidak hanya kevakaran, kerusakan lahan gambut juga disebabkan oleh pembukaan lahan dan kanalisasi yang menyebalkan subsidensi dan kerusakan karakter tanah. Lalu, diperparah dengan kebakaran hutan dan lahan.
Masalahnya lahan gambut yang merupakan timbunan ranting dan daun menyebabkan api mudah menyala. Selain itu, walau bagian permukaan lahan api telah padam, tidak dengan di bawah, yang mana titik api terus menyala.
Mengapa Lahan Gambut Rentan Terbakar?
Lahan gambut memiliki karakteristik yang berbeda dari tanah mineral pada umumnya. Gambut terbentuk dari akumulasi sisa-sisa tumbuhan yang mengalami pelapukan tidak sempurna dalam kondisi basah dalam waktu yang sangat lama.
Itulah mengapa, air memiliki peran penting dalam menjaga kelembaban ekosistem gambut. Akan tetapi, pengeringan akibat pembangunan saluran drainase, perubahan tata air, atau aktivitas manusia dapat menyebabkan kandungan air di dalam gambut berkurang.
Ketika kondisi tersebut berlangsung, gambut menjadi lebih rentan terbakar, terutama saat musim kemarau. Ditambah, gambut yang mengering mengandung bahan organik yang mudah terbakar.
Berbeda dengan kebakaran vegetasi di permukaan tanah, api pada lahan gambut dapat menjalar hingga ke lapisan bawah tanah dan membara tanpa terlihat jelas dari permukaan. Kondisi ini membuat kebakaran gambut sulit dideteksi dan membutuhkan waktu lebih lama untuk dipadamkan.
Bahkan, saat api di permukaan terlihat sudah padam, bara di bawah tanah masih dapat bertahan. Dalam kondisi tertentu dapat memicu kebakaran baru.
Ancaman Karhutla terhadap Ketahanan Pangan

Karhutla ancaman terhadap kerusakan vegetasi yang menjadi tempat hidup dan sumber makanan satwa. Mulai dari risiko kematian, perpindahan, dan terganggunya perkembangbiakan satwa.
Dengan begitu keseimbangan ekosistem akan terganggu. Didalamnya juga mencakup kerusakan terhadap sumber pangan, yang mana banyak masyarakat yang memanfaatkan lahan gambut untuk menanam tanaman sagu, dan tanaman lainnya yang bisa tumbuh di lahan gambut.
Ya! Tidak semua tanaman bisa tumbuh di lahan gambut karena bersifat asam. Berbeda dengan sagu, bahkan nanas yang bisa tumbuh subur di lahan gambut ini.
Sagu, doang! Indonesia punya beras. Memang betul di Indonesia, beras menjadi sumber karbohidrat utama, tetapi sampai kapan kita akan bergantung?
Sebagai anak petani, saat ini mengelola sawah banyak sekali tantangannya. Mulai dari hama, hingga kekeringan sepanjang kemarau. Hasil panen tidak maksimal, sedangkan biaya bertani sendiri tidaklah murah.
Seringnya besar pasak daripada tiang. Untuk itu, mengganti karbohidrat dengan tanaman lokal lain merupakan alternatif untuk sumber pangan baru. Bisa dari ubi-ubian, atau sagu.
Mengapa Pangan Lokal Penting bagi Indonesia?
Indonesia adalah negara yang memiliki keragaman sumber karbohidrat selain beras dan terigu. Uniknya setiap daerah memiliki sumber pangan lokal berbeda, seperti ubi jalar, singkong, jagung, dan beberapa daerah lainnya menghasilkan sagu.
Perlu diingat juga bahwa pangan lokal berkaitan erat dengan budaya, identitas, dan pengetahuan masyarakat. Itulah mengapa diversifikasi pangan dapat membantu mengurangi ketergantungan pada sumber pangan tertentu.
Pada sesi kedua online gathering Eco Blogger Squad menghadirkan Bapak Arif atau yang akrab disapa Aik. Memberikan pengetahuan baru tentang pola konsumsi di Indonesia.
Beras memang masih berada di urutan pertama, tetapi ada pertumbuhan terhadap konsumsi gandum yang mana mencapai 25.4%. Dengan ini, Indonesia bisa tidak hanya bergantung pada satu sumber karbohidrat.
Mengingat krisis iklim dan ancaman El Nino, yang mana ketahanan pangan Indonesia harus kuat dengan memanfaatkan sumber pangan lokal selain beras. Disini, penting untuk menjaga hutan karena sumber pangan lokal berasal dari alam.
Mengenal Sagu, Sumber Pangan Lokal Kaya Potensi

Sebelum mengikuti online gathering Eco Blogger Squad, aku sempat mencoba mi yang terbuat dari sagu. Ternyata, rasanya tidak kalah enak dibandingkan mi berbahan dasar terigu.
Sebuah pengalamn yang membuatku semakin sadar bahwa Indonesia memiliki beragam sumber pangan lokal yang bisa kita konsumsi sehari-hari. Dari sana juga, ada satu hal penting bahwa kita tidak harus selalu bergantung pada nasi sebagai sumber karbohidrat.
Sagu bisa menjadi salah satu alternatif sumber karbohidrat yang dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan, mulai dari papeda hingga mi sagu. Artinya, kekayaan pangan Indonesia tidak hanya berasal dari beras dan terigu, tetapi juga dari bahan pangan lokal yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di berbagai daerah.
Sagu sendiri merupakan tanaman yang banyak dimanfaatkan sebagai sumber pangan, terutama oleh masyarakat di Papua dan Maluku. Selain memiliki nilai budaya, sagu juga berpotensi mendukung diversifikasi pangan atau upaya memperluas pilihan sumber makanan pokok masyarakat.
Dengan mengenal dan mengonsumsi pangan lokal seperti sagu, kita dapat ikut mendorong pemanfaatan sumber daya pangan yang beragam sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi pangan Nusantara. Namun, potensi sagu tidak bisa dilepaskan dari kondisi lingkungan tempat tanaman ini tumbuh dan dibudidayakan.
Di sejumlah wilayah, sagu berkaitan erat dengan ekosistem lahan basah atau gambut yang menopang kehidupan masyarakat lokal. Oleh karena itu, menjaga ekosistem gambut tetap lestari menjadi hal penting agar sumber pangan lokal dapat terus dimanfaatkan oleh generasi mendatang.
Ketahanan pangan bukan hanya tentang apa yang kita makan hari ini, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga alam yang memungkinkan pangan itu tersedia di masa depan.
Penutup
Ancaman karhutla bukan hanya persoalan hutan yang terbakar dan asap yang menyelimuti permukiman. Lebih dari itu, ancaman kebakaran hutan dan lahan gambut juga memengaruhi biodiversitas, kehidupan masyarakat, dan keberlanjutan pangan lokal.
Itulah sebabnya ketika ekosistem gambut rusak, bukan hanya habitat flora dan fauna yang terancam. Melainkan juga potensi sumber pangan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Mengingat Indonesia memiliki beragam sumber pangan lokal, salah satunya sagu, yang bisa menjadi alternatif sumber karbohidrat selain beras dan terigu. Namun, kekayaan pangan tersebut perlu diiringi dengan upaya menjaga ekosistem tempat sumber daya alam tumbuh dan berkembang.
Oleh karena itu, kita harus jaga hutan dan jangan membakarnya jika tidak ingin sumber pangan lokal menghilang. Biarkan alam tetap lestari, agar ketahanan pangan juga semakin menguat dan bisa dinikmati hingga generasi berikutnya.