Tidak banyak yang tahu bahwa Hutan Adat memiliki peran besar dalam ketahanan pangan dan ekonomi restoratif. Seringkali pemangku kebijakan pun hanya fokus bagaimana memajukan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dengan mengorbankan banyak hal.
Raja Ampat yang menjadi Tambang Nikel menjadi 1 kasus dari ribuan kasus lainnya. Jauh sebelum itu, konflik hutan adat hingga saat ini terus dirugikan.
Faktanya, kesejahteraan masyarakat tidak akan berlangsung lama jika hutan sebagai sumber kehidupan semakin menyempit. Dalam workshop Nature’s Artisans: Exploring Eco-Friendly Crafts yang diadakan oleh #EcoBloggerSquad, aku mendapat banyak ilmu tentang peran hutan Adat terhadap Ekonomi Restoratif.
Daftar isi
Tentang Ekonomi Restoratif
Mungkin kamu sering mendengar tentang ekonomi restoratif, ketahanan pangan, dan sebagainya. Apakah kamu sudah memahami apa itu Ekonomi Restoratif?
Ekonomi Restoratif adalah sebuah model ekonomi yang tidak hanya fokus pada PDB, melainkan bagaimana kesejahteraan sosial dan pelestarian lingkungan berjalan beriringan. Model ekonomi ini muncul karena selama ini kegiatan perekonomian dijalankan secara destruktif dan ekstraktif.
Hasilnya bumi semakin tidak layak untuk tempat tinggal, karena hutan habis dibabat menjadi lahan perumahan dan industri. Banjir dan tanah longsor menjadi bencana tahunan yang sulit dihindari.
Untuk itu, penting mengembalikan fungsi hutan kembali ke awal. Hutan yang rusak perlu dipulihkan, karena hutan adalah paru-paru dunia.
Manfaat Ekonomi Restoratif
Ekonomi Restoratif menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat, tanpa mengorbankan kerusakan alam. Tentunya ada banyak manfaat yang bisa diperoleh, yaitu:
- Pemulihan ekonomi yang terdegradasi
- Tersedianya sumber pangan yang melimpah dari hutan
- Meningkatkan lapangan pekerjaan baru
- Mengurangi ketimpangan
LTKL dalam Membangun Ekonomi Restoratif
Ka Ristika Putri Istanti yang akrab dipanggil Ka Ica dari Sekretariat LTKL menjelaskan bahwa ekonomi restoratif bisa dalam berbagai wajah. Akan tetapi fokus utamanya yaitu ‘’Memulihkan”.
Pada Workshop Nature’s Artisans: Exploring Eco-Friendly Crafts, Ka Ica juga memaparkan peran LTKL atau Lingkar Temu Kabupaten Lestari sebagai akselerator dalam menciptakan model ekonomi dan pembangunan berkelanjutan.
Dalam hal itu, LTKL berpegang pada prinsip untuk model ekonomi restoratif, yaitu:

Workshop yang terselenggara pada tanggal 14 Juni 2025, menghadirkan Ka Esty Yuniar dari Semesta Lintang Lestari. Ka Esty mengajak peserta untuk mengenal Hutan Adat Ansok Kalimantan Barat.
Peran Hutan Adat dalam Ekonomi Restoratif

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) merlis bahwa luas hutan di dari Sabang sampai Merauke mencapai 125.76 hektar atau setara 62.97% total daratan di Indonesia. Hanya saja adanya deforestasi membuat hutan-hutan beralih fungsi.
Berdasarkan analisis Forest Watch luas hutan di Indonesia berkurang sebanyak 23 juta hektar rentang tahun 2000-2017. Dari data tersebut diketahui laju deforestasi dari tahun 2000-2009 mencapai 1.4 juta per hektar.
Sedangkan hasil analisa Auriga Nusantara deforestasi pada tahun 2023 naik menjadi 26.624. Indonesia pada tahun 2023 telah kehilangan fungsi hutan sebesar 257.384 hektar. Jika dibiarkan hutan terus menghilang maka akan berdampak besar terhadap kehidupan.
Fungsi hutan sebagai sumber pangan utama akan menghilang. Itulah sebabnya upaya pemulihan hutan terus dilakukan, termasuk menggunakan model ekonomi restoratif ini.
Menariknya model ekonomi restoratif hanyalah istilah keren anak-anak zaman sekarang. Ka Esty dari Semesta Lintang Lestari memberikan informasi tentang pengelolaan hutan di Hutan Adat Ansok, Sintang Kalimantan Barat.
Masyarakat yang tinggal di Hutan Adat Ansok memiliki sistem pengelolaan hutan yang baik. Di sana ada juga hutan Tembawang yang digunakan untuk berkebun, menghasilkan sumber pangan selama satu tahun.
Setelah satu tahun, masyarakat adat di Kalimantan Barat akan mencari berkebun di wilayah lain. Wilayah yang sudah digunakan akan ditutup untuk beberapa tahun kedepan. Dengan begitu fungsi hutan berjalan dengan baik.
Hasil pangan dari hutan di Indonesia juga cukup beragam dan bisa menjadi sumber penghasilan masyarakat untuk meningkatkan perekonomian. Pengelolaan yang tepat dapat menjadi sumber penghasilan berkelanjutan.
Salah satunya inovasi Semesta Sintang Lestari dengan mengelola Ikan Gabus menjadi cemilan sehat. Selain hutan, Kalimantan Barat juga terdiri atas sungai-sungai, dan Ikan Gabus selama ini tidak begitu dilirik masyarakat.
Faktanya ikan gabus mengandung protein tinggi. Hal ini yang membuat Semesta Sintang Lestari menciptakan produk bernama “Bischo” yang saat ini sudah disalurkan ke desa-desa sebagai kue untuk mengatasi stunting.
Membuat Craft Eco-Friendly

Tantangan yang cukup menarik di akhir acara workshop yaitu membuat craft dari bahan-bahan yang sudah disediakan. Dalam membuat Craft ini dibantu oleh Ka Dian Tamara dari Pancaran Sinema.
Setiap peserta mendapatkan potongan lirik lagu “Warisan Lintas Zaman”. Lalu, membuat kreasi bisa menggambar lirik tersebut atau apa saja bebas eksplor.
Aku sendiri mendapatkan potongan lirik “Benih-benih yang kaya makna”. Jujur sih sedikit kewalahan mau bikin kreasi seperti apa dari bahan yang tersedia, yaitu ada daun-daun kering, majalah, buku, dan komik.
Ini dia, hasil karyaku. Idenya hanya segini.

Penutup
Seru dan happy bisa ikut Workshop Nature’s Artisans: Exploring Eco-Friendly Crafts. Membuka mata bahwa alam kita sedang tidak baik-baik saja, harus segera dipulihkan dan menjaga yang masih utuh.
Terutama Peran Hutan Adat untuk selalu dijaga. Jangan sampai hutan habis hanya karena keegoisan untuk membangun food estate dan perindustrian, karena setelah hutan menghilang bumi tidak layak lagi untuk ditempati.