Berbicara mengenai ekonomi restorasi artinya membangun perekonomian tanpa mengorbankan lingkungan. Dalam hal ini ekonomi dan lingkungan bisa berjalan berbarengan tanpa ada kerusakan yang besar.
Seperti yang kita ketahui bahwa bumi terus menerus mengalami krisis karena pemanfaatan bahan baku dari alam berlebihan. Misalnya pertambangan yang berdampak besar terhadap kerusakan alam.
Melalui ekonomi restorasi ini, manusia dapat melestarikan lingkungan dan kesejahteraan terjamin. Salah satu bentuk ekonomi restorasi yaitu melestarikan pangan nusantara.
Melestarikan Pangan Nusantara untuk Ekonomi Restorasi Berkelanjutan
Indonesia adalah negara yang mengalami kekayaan alam melimpah. Banyak hasil hutan bukan kayu yang menjadi bahan pangan dalam beragam hidangan.
Uniknya setiap daerah memiliki ciri khas makanan berdasarkan bahan pangan yang tumbuh di daerah masing-masing. Salah satu contoh yang paling menarik perhatianku yaitu menciptakan rasa asin pada makanan bukan dari garam laut, melainkan dari pelepah nipah.
Garam nipah dimanfaatkan masyarakat papua dalam menciptakan rasa umami pada makanan. Ini aku ketahui saat mengikuti Offline Gathering Eco Blogger Squad di Sekolah Seniman Pangan Bekasi.
Mendengar Seniman Pangan aku langsung tertarik untuk mengenal lebih dalam. Dari namanya terdengar unik, dan pastinya memiliki makna yang begitu dalam.
Ya! Betul sekali Sahabat Senja, Sekolah Seniman Pangan yang berada by Javara adalah wadah atau tempat pelatihan bagi komunitas lokal maupun masyarakat dalam menhembamgkan bahan pangan di daerahnya menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Contohnya garam dari pelepah nipah, yang ternyata banyak dilirik koki-koki dari hotel-hotel ternama.
Di Sekolah Seniman Pangan inilah pelatihan berlangsung. Mulai dari mengembangkan produk, packaging, hingga distribusi.
Makin penasaran dengan Sekolah Seniman Pangan? Yuk! Kita ulik lebih dalam karena kami dari Eco Blogger Squad juga diajak keliling kebun seluas 3 hektar.
Sekolah Seniman Pangan by Javara
Sekolah Seniman Pangan berlokasi di kawasan perumahan vida Bekasi. Tepat di pintu masuk perumahan, yang mana kalau dilihat sekilas dari luar seperti cafe biasa.
Faktanya Seniman Pangan adalah tempat pelatihan khusus dalam mengembangkan produk pangan nusantara. Sebagai pendatang yang sudah 11 tahun di Cikarang, aku sendiri kaget ternyata ada tempat sekeren ini di Bekasi.
Kegiatan yang berlangsung tanggal 8 Agustus 2026 ini menjadi pengalaman berharga. Sebelum acara dimulai, Sekolah Seniman Pangan sudah menyediakan menu sarapan dari bahan pangan nusantara. Ada pisang kukus, kacang rebus, dan minuman yang memanfaatkan pangan lokal.
Ini mengingatkan aku saat berada di kampung halaman. Senikmat itu lho, sarapan cuma makan pisang rebus doang.
Setelah peserta EBS kumpul semua, acara dibuka dengan sambutan dari Ibu Johana Hehakaja selaku Business Director Sekolah Seniman Pangan. Sekaligus memperkenalkan team SSP lainnya ada Mba Corazon Nikijuluw selaku Food Technology & Education Manager Seniman Pangan dan Mama Etin Suryatin selaku Partnership Director Seniman Pangan.
Dan, ini kegiatan selama di Sekolah Seniman Pangan.
Keliling Kebun Seluas 3 Hektar
Berhubung jarum jam menunjukan waktu semakin siag, akhirnya Ibu Johana menyarankan untuk ke kebun terlebih dahulu. Lokasinya tepat di belakang cafe.
Jujur tidak menyangkan bahwa di belakangnya ada kebun seluas 3 hektar. Lahan yang dimanfaatkan hanya sebagian karena hanya dikelola oleh 2 petani.
Untuk kebun sendiri terbagi menjadi dua yaitu kebun produktif yang ditanami singkong, cabai rawit, tebu papu, kopi, dan lainnya. Kebun satunya untuk tanaman untuk salad atau bumbu, yang mana ada berbagai bahan pangan nusantara seperti pegagan, bawang dayak kalimantan, dan masih banyak lagi.
Menariknya tanaman yang ada di sini sangat beragam dan dari berbagai daerah di Indonesia. Inilah yang menjadi daya tarik Sekolah Seniman Pangan.
Tidak sekedar memberikan pelatihan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Melainkan bagaimana bahan pangan nusantara bisa lestari.
Mengingat, generasi sekarang banyak yang memandang sebelah mata mengenai makanan nusantara. Misalnya takut rasanya tidak enak.
Menanam Cabai, Mencicipi Tebu Papua, Hingga Panen Singkong
Berkeliling saja tidak seru, kan? SSP mengajak peserta EBS untuk menanam cabai langsung. Aku sih milih jadi tim nyangkul, karena si bapaknya juga tiba-tiba menghilang. Ternyata lagi ambil benih tambahan.
Setelah menanam dilanjut panen kopi. Konon kopi di sini baru bisa berbuah setelah beberapa tahun. Tidak heran karena pertumbuhan kopi dipengaruhi oleh cuaca.
Lanjut, panen tebu papua. Rasanya tidak begitu manis dari tebu biasa, tetapi enak, lho. Kita juga diajak untuk panen singkong
Mengenal Tanaman dari Berbagai Daerah Indonesia
Perjalanan keliling kebun dilanjut menuju kebun non produktif. Kali ini ditemani Mama Etin. Beliau menceritakan kisah perjalanannya ke pelosok daerah untuk mengenal dan melestarikan pangan nusantara.
Jadi, Sahabat Senja sebelum bahan pangan lokal diolah menjadi produk ada survey terlebih dahulu. Mama Etin ini biasanya datang ke daerah untuk melihat kekayaan apa yang bisa dikelola, bagaimana cara mendapatkannya, apakah harus masuk ke pedalaman hutan, dan sebagainya.
Mengenal Produk yang Dikembangkan oleh Sekolah Seniman Pangan
Selesai mengunjungi kebun kami diajak untuk mengenal produk-produk yang dikembangkan oleh Sekolah Seniman Pangan. Salah satunya garam pelepah nipah dari Papua. Garam pelepah nipah ini biasanya berwarna hitam, tetapi agar masyarakat secara umum dapat menerima produk dengan baik maka dikembangkan seperti garam laut.
Ternyata bisa tanpa mengurangi kadar yodium dalam produknya. Yang perlu digaris bawahi bahwa kandungan yodiumnya 20% lebih rendah dari garam laut, yang artinya garam pelepah nipah ini lebih sehat.
Membuat Sirup Daun Kemangi dan Selai Bunga Rosella
Seniman Pangan mengajarkan bagaimana pangan lokal dapat dikembangkan menjadi produk premium berkualitas. Bayangkan saja ada sirup dari daun kemangi dan ini tidak salah baca.
Buktinya kami praktek langsung membuat sirup daun kemangi. Sahabat Senja, tentu tidak asing daun kemangi sering dimanfaatkan sebagai lalapan. Tetapi, SSP Berhasil membuat sirup kemangi yang ternyata rasanya enak dan aroma khas daun kemanginya itu tidak tercium.
Selanjutnya, kami juga diberi kesempatan untuk membuat selai dari bunga rosella. Bunga berwarna merah ini ternyata tidak hanya dimanfaatkan sebagai teh herbal, tetapi bisa dijadikan selai yang rasanya hampir mirip dengan selai stroberi.
Makan Siang Makanan Khas Nusantara
Selain pelatihan mengembangkan produk lokal, SSP juga mengadakan pelatihan gastronomi. Bahwa Makanan Nusantara harus lestari karena memiliki history yang sangat menarik untuk disebarkan.
Disinilah kami mendapat kesempatan untuk mencicipi makanan khas nusantara. Ada Nasi Subut Kalimantan, Sate Singkong dengan Sambal Kacang – Mollo NTT, Ayam Tangkap khas Aceh, Inter Singkong dari Bogor, Perkedel Jagung – Mollo NTT, Sambal Beberok – NTB, Sambal Terong Belanda – Sumatera Selatan, Ikan, dan Tahu Tempe Bacem.
Untuk dessert ada Rujak Aceh dan SAgu Sep Pisang khas Papua dengan tambahan topping gelato.
Penutup
Gebrakan EBS memang tidak ada matinya. Selalu memberikan pengalaman yang berarti dan berharga, terutama untuk mengenal lebih dalam mengenai konsep restorasi ekonomi. Konsep yang tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi belaka, melainkan berkontribusi pada pemulihan alam, keberagaman hayati, dan kesejahteraan masyarakat.
Salah satunya memanfaatkan kekayaan alam nusantara sewajarnya, tanpa harus merusak alam. Sekaligus melestarikan pangan nusantara, budaya dan warisan leluhur, karena yang perlu dilestarikan bukan hanya makanannya, tetapi pengetahuan, budaya, dan hubungan masyarakat dengan sumber pangan.