Tidak aku sangka di tahun 2026 ini bisa ke Jawa Tengah, salah satu daerah yang ingin aku explore wisatanya. Kebetulan mendapatkan kesempatan untuk gabung Explore Jejak Sejarah Jalur Kereta Api Kedungjati – Tuntang bersama Kompasiana & KAI.
Sebuah kesempatan yang begitu berharga, karena kunjungan kali ini untuk mengenal sejarah perkeretaapian Indonesia. Salah satunya stasiun tua Kedungjati yang menyimpan berjuta cerita.
Jejak Sejarah Kereta Api di Stasiun Kedungjati
Secara administratif, Stasiun Kedungjati masuk ke dalam Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Ini bukan stasiun besar, hanya stasiun kecil yang masuk dalam kelas III. Walau begitu menjadi penghubung berbagai rute perjalanan antar-kota.
Kali ini mengunjungi Stasiun Kedungjati untuk menyusuri jejak rel kereta api Kedungjati-Tuntang yang mana saat ini sudah tidak beroperasi lagi. Salah satu agenda dalam kegiatan tour KAI ini mengenal sejarah Stasiun Kedungjati.
Sejarah Stasiun Kedungjati

Stasiun Kedungjati dibangun pada masa penjajahan Belanda sekitar tahun 1868, yang mana dibangun oleh perusahaan asal Belanda yaitu nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Lalu, diresmikan pada 21 Mei 1873.
Hal yang perlu Sahabat Senja ketahui bahwa awal pembangunan stasiun terbuat dari kayu, hingga ada perombakan pada tahun 1907. Atap menggunakan seng, konstruksi peron dengan baja, dan bata berplester.
Pada masa itu, peran Stasiun Kedungjati sebagai jalur persimpangan menuju Surabaya, Ambarawa, dan Vorstenlanden atau Kesultanan Surakarta dan Yogyakarta. Saat ini memang masih beroperasi tetapi, jalur ke Stasiun Ambarawa sudah tidak ada.
Bangunan Tua dan Jam Kuno Legendaris
Stasiun Kedungjati menjadi bukti sejarah kereta api Indonesia yang mana bangunan lama masih berdiri kokoh. Beberapa memang ada perbaikan, seperti pengecetan ulang dinding banguan dan beberapa bagian lainnya.
Walau begitu ceritanya tetap abadi dan menjadi stasiun yang tetap ada dan beroperasi. Entah itu untuk konektivitas perjalanan dan perdagangan, maupun sebagai tempat wisata sejarah.

Stasiun Kedungjati ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Apalagi masih ada jam kuno peninggalan Belanda yang masih berfungsi. Jam kuno yang ada tata cara khusus dalam menggunakannya, yang mana ada satu jam khusus yang menjadi penggerak jam kuno lainnya.
Ya! terdapat dua jam dinding di bagian utara peron dan dua lagi di peron selatan. Jam kuno ini akan bergerak dan hidup jika jam utama yang terletak di ruang Kepala Stasiun digerakan. Itulah mengapa, ke empat jam di luar gedung tersebut dapat menunjukan waktu yang sama persis.
Btw, untuk mekanisme cara menggerakan jam dinding legendaris peninggalan Belanda ini masih ada. Terdapat cara penggunaan dalam bahasa belanda dan terjemahan dalam bahasa Indonesia.
Ruang Tunggu Khusus

Masa penjajahan memang masa kelam bagi bangsa Indonesia. Pembuatan rel kereta yang memakan banyak korban, hingga diskriminasi terhadap pengguna kereta api.
Di Stasiun Kedungjati ada ruang tunggu penumpang yang biasa saja dan VIP. Ruang tunggu terbuka di luar bangunan utama khusus untuk pribumi. Sedangkan bagi warga Eropa ada ruang VIP yang lebih baik.
Kedua ruang tunggu ini masih ada, tetapi untuk ruang tunggu khusus VIP memang kondisinya cukup memprihatinkan. Bahkan tidak bisa sembarangan dibongkar karena sudah masuk dalam status cagar budaya milik PT Kereta Api Indonesia (Persero).
Walau ada perbaikan, tidak merombak keseluruhan. Seperti yang sudah disinggung di atas, perbaikan kecil seperti pengecatan ulang dengan warna yang sama seperti sebelumnya.
Jalur Kereta Tidak Aktif

Di stasiun Kedungjati ada dua jalur rel yang aktif dan tidak aktif. Untuk yang tidak aktif ini bagus untuk foto-foto dan take video, lho.
Itulah mengapa aku bilang kalau Kedungjati bisa menjadi tujuan wisata sejarah. Bahkan salah satu hidden gems di wilayah Semarang yang cocok buat Sahabat Senja penyuka tempat-tempat baru dan bersejarah.
Cara Berkunjung ke Stasiun Kedungjati
Akses menuju Kedungjati sangat mudah, yang mana pengunjung bisa naik kereta lokal. Jadi, dari Stasiun Semarang Tawang naik kereta Banyubiru. KA Banyubiru ini memiliki rute perjalanan dari Semarang Tawang ke Solo (Balapan).
Oleh karena itu, untuk Sahabat Senja yang dari Jakarta harus naik kereta dulu dari Jakarta (Gambir) ke Semarang Tawang. Selanjutnya, transit dan naik lagi KA Banyubiru.
Untuk harga tiket kereta api bisa cek langsung di KAI Access atau aplikasi booking tiket kereta api lainnya. Pilih yang lagi ada promo saja, biar lebih hemat.
Penutup
Explore searah Stasiun Kedungjati membuat aku semakin penasaran dengan sejarah Kereta Api Indonesia. Awalnya cuma sekedar penumpang, tetapi aku ingin menggali lebih jauh tentang perkeretaapian di Indonesia.
Bagi aku jejak sejarah memberikan pembelajaran berarti tentang kehidupan. Dari kehidupan tradisional, menuju kehidupan yang lebih modern.
Bahkan dunia sudah membuktikan, perubahan yang terjadi karena belajar dari masa lalu. Jejak sejarah tidak boleh hilang begitu saja, harus tetap abadi dari masa ke masa.
Sahabat Senja, cobain juga wisata sejarah kereta api Indonesia. Agar semakin penasaran aku juga akan ajak kalian Mengenal Lebih Dekat Museum Kereta Api Stasiun Ambarawa.