Telaga Warna Dieng menjadi penutup liburan kali ini. Ya! Jatahnya hanya 2 hari satu malam, karena besoknya harus kembali bekerja.
Walau banyak destinasi wisata yang belum aku kunjungi, tetapi sangat puas. Dari yang takjub dengan keindahan alam Dieng, kena ‘’prank’’ di Kawah Sikidang, hingga hampir nyungsep di Telaga Warna.
Bagaimana ceritanya? Kenalin dulu ya, dengan wisata Telaga Warna yang terkenal dengan air telaga yang dapat berubah warna ini.
Daftar isi
Cerita dari Telaga Warna Dieng

Menilik dari sejarah bahwa Telaga Warna di dataran tinggi Dieng adalah telaga vulkanik yang terbentuk dari letusan gunung Perahu Tua. Telaga ini memiliki kandungan belerang yang tinggi, sehingga menjadi salah satu faktor adanya perubahan warna air.
Telaga warna dapat berubah menjadi lima warna sekaligus, yaitu merah, hijau, biru, abu-abu, dan kuning. Perubahan warna dapat pengunjung saksikan saat musim lematau antara bulan Juli-Agustus.
Sedangkan di luar musim kemarau hanya empat warna yang bisa terlihat. Tetapi, karena aku kemarin berkunjung saat intensitas hujan tinggi, telaga warna berwarna tosca yang begitu menawan.
Selain karena kandungan belerang yang tinggi, perubahan warna terjadi karena faktor intensitas sinar matahari, plankton, atau tumbuhan di sekitar. Walau begitu ada cerita rakyat yang beredar.
Perubahan warna di Telaga Warna Wonosobo Dieng berkaitan dengan legenda Cupumanik Astagina. Sebuah pusaka milik Batara Surya yang mampu memperlihatkan jiwa manusia tanpa dosa.
Kala itu, ketika Batara Surya diliputi kemarahan dan kekecewaan, lalu melemparkan pusaka ke angkasa. Isi pusaka jatuh ke telaga warna yang mengubah warna air telaga, sedangkan tutupnya jatuh ke Telaga Semala, India.
Legenda yang hingga saat ini masih berkembang. Tetapi, memang diakui bahwa Telaga Warna merupakan salah satu destinasi wisata Dieng yang menakjubkan karena tidak hanya menawarkan keindahan warna telaga air sajan
Kawah Kecil di Telaga Warna
Lokasi Telaga Warna tidak begitu jauh dengan Kawah Sikidang, namun menariknya di salah satu sisi talaga terdapat kawah kecil, yaitu Kawah Sikendang.
Kawah Sikendang adalah kawah yang terdiri dari kumpulan air panas yang terperangkap dalam tanah. Tekanan dari air panas acap kali mengeluarkan bunyi seperti suara gendang dan menjadi awal mula nama kawah kecil ini.
Terdapat Goa yang Memiliki Nilai Sejarah dan Spiritual

Tidak pernah terbayangkan kalau di objek wisata Telaga Warna terdapat wisata sejarah dan spiritual juga. Terdapat Goa Jaran Resi Kendaliseto Sumur Eyang Kumalasari, Goa Semar, dan Goa Pengantin.
Di Goa Sumur terdapat air yang disucikan oleh masyarakat Bali yang memiliki keturunan dengan masyarakat Dieng. Air Suci tersebut dikenal dengan Tirta Perwita Sari atau air kehidupan.
Selain itu, terdapat juga Batu Tulis yang awalnya aku kira sebuah batu yang terdapat tulisan aksara sansekerta. Ternyata dinamani batu tulis karena batu besar ini dipercaya masyarakat dapat membantu anak-anak yang belum bisa membaca. Ketika orang tuanya berdoa kepada Yang Maha Kuasa di batu besar ini maka anaknya akan segera bisa membaca.
Menariknya saat aku berkunjung ke area goa ini, suasananya beda banget dengan area bagian depan telaga. Yang mana lebih terasa adem dan sejuk, tetapi saat memasuki kawasan gua suasana langsung berbeda.
Aku merasakan ada aura mistis yang sulit dijelaskan dengan akal dan nalar. Apalagi terdapat pepohonan yang batangnya berwarna keemasan. Jujur, aku agak kurang nyaman, walau sebetulnya penasaran dengan Goa Sumur.
Spot Foto dengan View Perbukitan

Di Telaga Warna terdapat spot foto dengan view air telaga warna dan perbukitan. Spot yang sangat Instagramable dan terdapat juga pohon tumbang untuk spot foto yang lebih menarik, walau sedikit ekstrim.
Demi Foto Keren, Hampir Nyungsep ke Telaga Warna
Di area telaga ada pohon tumbang yang bisa untuk spot foto. Ini tuh spot alami untuk dapetin foto kece.

Aku juga melihat beberapa pengunjung pada foto di pohon tumbang. Karena, penasaran akhirnya coba juga dan ternyata tidak semudah yang aku bayangkan.
Di pohon satu ternyata sangat susah, padahal ini bakalan keren banget. Akhirnya gagal, cuma foto pohonnya saja.
Pohon tumbang selanjutnya terlalu ekstrim, karena yang lain juga butuh perjuangan untuk bisa foto di sana. Selanjutnya ada pohon tumbanh yang menurut aku lebih aman dan coba deh.
Ternyata aman, hanya saja perlu atur keseimbangan. Kejadiannya saat mau balik badan itu, hampir jatuh ke telaga warna.
Tiket Masuk Telaga Warna
Tiket masuk Telaga Warna Dieng sekitar Rp. 22.000 untuk wisatawan lokal. Untuk wisatawan mancanegara tiket masuk cukup mahal, yaitu Rp. 117.000 di weekdays, dan mencapai Rp. 164.000 di weekend.
Lokasi
Lokasi Telaga Warna berada di Desa Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo.
Senang banget bisa ke Telaga Warna, sebagai salah satu destinasi wisata yang sangat ingin aku kunjungi. Tidak menyesal juga menjadi tujuan akhir penutup liburan ke Dieng kali ini, karena menjadi tempat yang teoatenghilang lelah setelah memutari pasar di kawah Sikidang.
Pengen balik lagi kesini untuk eksplor goa di Telaga Warna. Next, semoga suatu hari nanti karena lagi menuntaskan wishlist lain keliling Indonesia, yang schedule terdekat Camp di Ranu Kumbolo.