Tektok Gunung Prau Via Dieng, Mana Landainya?

Padahal baru dari Semarang, di bulan Oktober 2026 aku balik lagi ke Jawa Tengah. Tujuan kali ini Tektok Gunung Prau, yang mana antara bulan agustus sampai oktober waktu yang pas buat menikmati hamparan bunga daisy. 

Untuk itu, tidak aku tunda lagi harus naik maksimal di Oktober. Menunggu tahun 2027, lama sekali dan pada dasarnya aku memang tidak sabaran. Kalau sudah punya rencana, harus terwujud. 

Pendakian Tektok Gunung Prau

Awalnya mau camp di Prau, karena memang ada spot populer yaitu sunrise camp yang merupakan tempat terbaik buat menikmati matahari terbit di Jawa Tengah. Hanya saja kekurangan peserta, minimal harus 4 orang. 

Ya! Aku menggunakan private trip dan untuk camp minimal 4 orang, kurang dari itu biaya jadi mahal. Untuk 4 orang saja mencapai 850 ribu di luar ongkos perjalanan dari Jakarta hingga Wonosobo. 

Berhubung tidak ada peserta, akhirnya memutuskan untuk tektok. Faktanya ini tidak buruk juga karena aku bisa eksplore Wonosobo terlebih dahulu. 

Sahabat Senja bisa cek postingan sebelumnya mulai dari Sarapan Lontong Tetel, Mengunjungi Alun-Alun Wonosobo, Santai di Rockwood Cafe, hingga Makan Malam di Dieng Food Court. 

Walaupun memang tidak aku pungkiri ada hal yang tidak aku perhitungkan. Padahal aku tahu kondisinya seperti apa. 

Mengejar Sunrise Prau 

Sebelum berangkat aku sempat konfirmasi ke Ka Norma yang akan mengantar aku dan temanku tektok Prau, “bagus sunrise atau sunset?”

Jawabannya ternyata sunrise, sehingga kami harus sudah naik dini hari. Perihal waktu tidak masalah, karena untuk summit memang hampir di semua gunung berangkat dini hari. 

Jika terlalu siang sudah dipastikan tidak dapat sunrise. Sayang saja kalau tidak dapat momen yang paling dinantikan karena tidak camp. 

Untuk itulah, dini hari sudah persiapan buat naik. Carrier aku bawa summit, walau sebetulnya bisa simpan di basecamp. 

Tektok Prau Via Dieng 

Pendakian Gunung Prau ada beberapa jalur, yaitu via Dieng, Patak Banteng, Wates, Kalilembu, Dwarawati, dan Igirmranak. Ka Norma memutuskan nail via Dieng, yang awalnya mau lewat Patak Banteng. 

Infonya sih, via Dieng lebih landai. Faktanya tidak selandia yang aku bayangkan, karena sebelumnya aku sudah beberapa kali naik Gunung Ciremai via Palutungan yang memang landai. 

Beda sekali jalur lewat Dieng ini yang tidak ada landainya. Langsung nanjak terus hingga puncak. 

Susah Nafas Saat Summit Prau 

Selain jalur yang menanjak, aku juga kesulitan bernafas. Di sini aku terlalu mengabaikan cuaca Dieng, padahal saat akhir tahun 2025 di bulan Desember itu cuacanya sangat dingin. 

Disini aku salah perhitungkan, karena nantinya bakalan jalan terus dengan carrier berat di punggungku bisa lebih aman. Ternyata salah, karena cuaca dingin sangat menusuk pernafasan. 

Sangat terasa dinginnya membuat aku sesak nafas, sehingga tidak bisa jalan cepat. Jalur menanjak, sesak karena dingin, juga beban di punggung. 

Alhasil tidak bisa menikmati momen saat sunrise mulai naik ke permukaan. Saat tiba di puncak kilau cahaya kuning keemasan sudah memenuhi atau Dieng. 

Seharusnya aku bawa noise strip agar bisa bernafas lebih lega. Memang tidak bisa menghalau cuaca dingin sepenuhnya, tetapi tidak terlalu sesak di dada. 

Buatku ini pelajaran berharga untuk kedepannya lebih prepare, walau cuma tektok. Intinya jangan mengabaikan soal naik gunung, entah itu camp atau tektok. 

Sunrise yang Mengagumkan di Puncak Prau 

Walau gagal menyaksikan matahari terbit, tetapi aku tidak kehilangan momen melihat kemilau cahaya kuning keemasan yang memenuhi langit Dieng. Begitu cantik nan indah. 

Membuat dadaku lebih lega setelah berjuang melawan rasa sesak karena dingin. Rasa lelah terbayarkan dengan keindahan yang disuguhkan Gunung Prau. 

Tidak heran banyak yang jatuh cinta dengan Prau. Aku juga pengen balik lagi, sih. Next maunya camp. Tentunya dengan persiapan yang lebih matang. 

Apalagi di Prau ini banyak spot menarik buat foto dan mengabadikan momen terbaik. Termasuk spot foto di antara bunga daisy. 

Biaya Tektok Gunung Prau 

Sahabat Senja, pendakian kali ini aku pilih privat trip bareng Ka Norma. Biayanya sektar Rp. 450.000 karena berdua. Terus ada tambahan ojek buat antar makan malam dan balik ke terminal saat pulang. 

Secara keseluruhan biaya trip aku habis Rp. 750.000. Ini diluar ongkos transportasi dari Jakarta-Wonosobo. 

Ongkos Bus Agra Mas ke Terminal Mendolo Wonosobo yaitu Rp. 180.000 dan pulangnya naik kereta dari Purwokerto. 

Untuk biaya transportasi pulang, yaitu ongkos Bus dari Mendolo ke Purwokerto sekitar Rp. 50.000. Lanjut naik gocar ke Stasiun Purwokerto Rp. 26.000 dan Tiket Kereta Purwokerto ke Cirebon Rp. 75.000. 

Pulangnya memang aku ke Kuningan, sehingga memilih kereta. Sebetulnya ada Bus langsung ke Cirebon, hanya saja tiba di Cirebon itu sekitar Pukul 24:00. Sedangkan dari Cirebon ke rumahku di Kuningan butuh 2 jam lagi. 

Total keseluruhan pendakian Prau di atas satu juta. Biaya yang wajar karena pakai privat trip, berbeda kalau ikut open trip bisa lebih murah. Bahkan ada yang jemputan dari Jakarta, hanya saja aku kalau naik gunung lebih suka yang santai dan damai. 

Kesimpulan

Seru banget bisa mendaki Gunung Prau, yang mana salah satu yang sudah masuk dalam list pendakian. Apalagi berjalan lancar, walau sempat kesulitan saat summit. 

Tektok Gunung Prau, cocok juga untuk pemula. Saranku tetap melakukan persiapan dengan matang karena cuaca dingin sangay dingin. 

Tinggalkan komentar